Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ini Alasannya, Kenapa Kita Harus Meninggalkan Perdebatan di Dunia Maya

Jumat, 18 Desember 2020 | Desember 18, 2020 WIB Last Updated 2020-12-18T09:01:53Z

Ilustrasi Pedebatan. /PIxels.com/Polina Zimmerman.

HALLO TASIK
- Kenapa kita harus meninggalkan Perdebatan di dunia maya atau media sosial?


Berikut beberapa alasan untuk meninggalkannya,antara lain.


1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.


2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.


3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.


4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.


5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.


Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.


Dalam sebuah hadist (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138) diriwayatkan  agar kita untuk meninggalkan debat, meskipun kita pada posisi yang benar.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ


“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).


 


Selain itu, Perdebatan di Dunia maya pada dasarnya hanya membuang energi dan menyianyiakan waktu dan cukup sulit untuk mencapai tujuan,yaitu untuk mencari kebenaran.yang sering kita jumpai justru pembenaran.


Dalam debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.


Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, maka akan menjadi   sia-sia berdebat dengan orang tersebut.


Seperti kita ketahui, Islam merupakan agama yang Ilmiah yang didasarkan pada  Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.


Sering kita jumpai di media sosial, kita tidak mengenal lawan debat kita. Bisa jadi orang yang kita ajak berdebat adalah orang yang tidak berilmu. Dengan bermodalkan googling, belum lagi orang yang kita ajak berdebat tersebut menggunakan akun palsu.


Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja.


Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,


إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوت


فإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت


“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.


Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.


Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.


Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” 


Oleh : Yusfi Wawan Sepriyadi,S.T, Wartawan.

×
Berita Terbaru Update