Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mati Kena Corona atau Mati Kelaparan

Minggu, 15 November 2020 | November 15, 2020 WIB Last Updated 2020-12-02T07:38:53Z

Penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan. (Foto: Instagram @coronavirus.update)

Hallotasik.com
- Sabtu kemaren saya beranikan diri belanja ke kota.


Jalanan memang nggak kayak dulu yang ramai banget dan semrawut. Sekarang sih cukup legang, pasca merebaknya info tentang corona itu  covid19 itu.


Dan ditambah lagi pemberlakuan himbauan di rumah saja oleh pemerintah pusat dan daerah. 


Saya berangkat kulakan belanja barang dagangan sekitar jam sembilan pagi.


Setelah menyiapkan sesuatunya, saya berangkat. Tetiba dijalan saya ngerasa ban motor kayaknya agak kempes, harus ditambah anginnya. 


Sepanjang jalan, saya cari tempat tambal ban.


Alhamdulillah tidak terlalu jauh saya melihat plang tulisan tambal ban.


Saya arahkan motor ke situ dan meminta tolong ke bapak tambal ban itu untuk nambahin angin ban motorku.


Sembari bapak itu mengisi angin ban belakang motor, saya tanya ke dia, "pak, di kota masih bolehkan orang dari kabupaten masuk?" ini karna saya sudah lama nggak belanja ke kota.


Dia jawab, "boleh mas, hanya saja cukup ketat aturannya kalau di kota. Kalau di kabupaten sih nggak begitu lebih santai. Malah di kabupaten masih ramai. Orang masih banyak yang keluar rumah."


"Bapak sendiri terkena aturan nggak? Ya nggak boleh buka tambal ban gitu?" tanyaku sambil ngeliatin beliau nambahin angin buat ban depan motorku. Ban motorku dua-duanya kempes.


"Iya mas, saya ikut aturan dari Pemkot, sekitar dua mingguan saya nggak buka jasa tambal ban." jawabnya santai.


"Tapi bapak masih bisa keluarkan?" tanyaku lagi.


"Kalau mau beli bahan makanan ya saya keluar, buat makan sehari-hari. Dan selama di rumah saja ternyata menguras dompet tabungan saya. Di rumah ada anak saya dua orang dan satu isteri, yang harus dipenuhi kebutuhan dasarnya," ucapnya.


"Terus bapak pas buka lagi ini ada teguran nggak dari aparat keamanan?" tanyaku lagi penasaran.


"Ya ada mas, ketika tabungan saya nggak kuat lagi menopang kebutuhan makan buat dua anak dan satu isteri saya, karena tabungan sudah habis. Maka saya beranikan diri buka jasa tambal ban lagi. Sempet polisi mendatangi saya ditempat ini. Menanyakan kenapa buka? saya jawab kondisi keuangan sudah kosong, dan kalau saya nggak berangkat kerja nambal ban, maka saya khawatir anak dan isteri saya bisa kelaparan, sedangkan bantuan dari pemerintah buat yang terdampak, belum juga cair. Disuruhnya di rumah saja, tapi nggak dikasih makan. Ya gimana ya. Hanya ada dua pilihan mati kelaparan atau mati kena corona. Saya putuskan anak dan isteri saya nggak boleh mati kelaparan. Mereka harus tetap hidup," paparnya


"Terus tanggapan pak polisi gimana?" tanya saya lagi


"Lalu pak polisi bilang ya sudah bapak waspada, hati-hati dan jaga kesehatan, tetap jaga jarak," jawabnya..


"Saya sudah pasrah mas, terserah gusti Allah saja gimana baiknya, sudah nggak ada lagi pilihan. Saya sih nggak pengen lebih, yang penting buat makan saja sudah cukup," ujarnya.


"Pengalaman dua minggu di rumah aja, buat kami yang hidup pas-pasan ini cukup berat. Apa pun yang terjadi saya pasrahkan pada gusti Allah," tambahnya.


Beberapa orang yang saya temui, kayak pedagang gorengan, pedagang keliling yang pakai sepeda, dan lain sebagainya suara meraka sama. Mereka sebenarnya takut dengan virus covid19 ini, tapi mereka lebih takut kalau kelaparan.


Ini tentu saja dilema bagi aparat keamanan dilapangan.


Saya kira ini bisa jadi jawaban dari pernyataan temanku tadi sore yang menggerutu nyebrang jalan susah banget, katanya.

Oleh : Ahmad Sholeh, Pedagang Sembako.



×
Berita Terbaru Update