Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tani Pekarangan Bisa Jawab Problem Kemiskinan Buruh Tani

Jumat, 16 Oktober 2020 | Oktober 16, 2020 WIB Last Updated 2020-12-02T07:59:24Z

Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada Jumat (16/10/2020). (Foto : jabarprov.go.id)

Hallotasik.com, Bandung
- Planet bumi yang diisi manusia ini tidak secara otomatis menyediakan kecukupan untuk para penghuhinya tetapi untuk memenuhi kecukupan pangan dan terjaganya ekologi, manusia memerlukan rekayasa atau kreativitas untuk survive hidiupnya. 


Ketua Odesa Indonesia, Faiz Manshur mengatakan, manusia menempati subjek utama dalam keberlangsungan hidup antar manusia termasuk dengan makhluk lain sehingga penting dalam mengambil tugas menjaga keberlangsungan bumi, dan urusan menanam, adalah cikal bakal lahirnya kualitas hidup bermasyarakat.


"Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada Jumat (16/10/2020) Organisati Pangan Dunia FAO (Food and Agriculture Organization) mengangkat tema “Tanam, Pelihara, Lestarikan Bersama”. Dengan kata lain, kita harus terus menanam untuk menghasilkan gizi sekaligus melestarikan ekologi serta harus dilakukan bersama-sama," ucapnya.


Menurut Faiz, slogan ini cukup baik untuk mengingatkan warga masyarakat dunia, terutama pemerintah agar memperhatikan gerakan tanam. Dan tanaman yang terbaik untuk pangan sangat bergantung pada 3 pilar, yaitu keanekaragaman hayati, kecakapan orang memilih sumber bergizi dan mengelolanya serta kemampuan komunitas mengurus hasil panen untuk kecukupan warga komunitas atau daerah. 


"Memanam adalah kerja kebudayaan karena setelah era masyarakat nomad, manusia memasuki tradisi komune dengan agrikultur-nya. Dari model hidup yang menetap itulah kreativitas berkembang," kata Faiz, melalui rilis yang diterima www.jabarprov.go.id, Kamis (15/10/2020).


Faiz menyatakan, ketika urusan pangan semakin kokoh, manusia akan lebih mudah mengembangkan urusan lain seperti pembangunan infrastruktur, kegiatan pendidikan, seni, dan lain sebagainya, termasuk bersolidaritas membangun empati. 


"Indonesia masih punya peluang besar untuk kuat dalam hal pangan. Sayangnya pendidikan kita tidak banyak yang mengarah pada pembentukan karakter manusia kea rah tradisi menanam. Bahkan fakultas pertanian pun yang mestinya diarahkan untuk membentuk gerakan tanam hanya mampu memproduksi pegawai. Pertanian kita masih jauh terpisah dari sains sehingga banyak petani yang terbelakang," imbuhnya.


Faiz menuturkan, hari pangan sedunia 2020 bersama dengan wabah pandemic Covid-19, penting ditafsirkan untuk sebuah cara hidup baru, bahwa kita harus selalu ingat setelah makan harus tanam, karenanya Yayasan Odesa Indonesia mengajak semua warga, terutama warga Kota agar punya kepedulian terhadap tanaman dan menjalin solidaritas dengan petani. 


"Kebersamaan itulah yang akan mempercepat proses. Banyak orang berpendidikan perlu turun ke desa, bekerjasama dengan para petani yang merupakan aktor penting dalam urusan pangan.Tani pekarangan misalnya, digerakkan Yayasan Odesa Indonesia untuk menjawab problem kemiskinan buruh tani. Dengan pemanfatan halaman, banyak petani yang mendapatkan berkah dari hasil panennya, minimal mendapatkan sumber gizi tanpa belanja, bahkan bisa menjadi model ekonomi baru," pungkasnya. (jbr)

×
Berita Terbaru Update