Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bupati Garut Buka Acara Rembuk Desa Siaga Tuberkulosis

Rabu, 19 Agustus 2020 | Agustus 19, 2020 WIB Last Updated 2020-12-02T08:24:26Z

 Acara Rembuk Desa Siaga Tuberkulosis. (Foto : jabarprov.go.id)

Hallotasil.com, Garut Kota - Bupati Garut Rudy Gunawan, Selasa (18/8/2020) membuka Acara Rembuk Desa Siaga Tuberkulosis yang diselenggarakan oleh Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung Kementerian Kesehatan  RI bekerja sama dengan Pemkab Garut, bertempat di Ruang Rapat Bappeda Kabupaten Garut.


Bupati Garut Rudy Gunawan mengatakan, tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan selain stunting dan AKI (Angka Kematian Ibu) serta AKB (Angka Kematian Bayi). Menurutnya, penanganan TBC tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor Kesehatan saja, sehingga ia menaruh perhatian dalam penyediaan Kawasan Sehat dan Peduli TBC yang diwujudkan dalam bentuk desa percontohan Desa Siaga Tuberkulosis di Kelurahan Sukamenteri, Kecamatan garut Kota. 


Pendekatan yang diambil dalam Desa Siaga adalah melalui penataan kawasan kumuh, penyediaan rumah sehat dan rumah singgah  bagi pasien TBC serta bantuan sosial kepada para pasien TBC yang sedang dalam proses pengobatan yang didukung oleh Ormas dan Filantropis. Aisyiah berperan besar dalam penggerakan kader pendampingan dan penggalangan dukungan sosial bagi pasien TBC, sementara Yahintara berperan dalam penataan kawasan kumuh, renovasi rumah sehat dan pembangunan rumah tunggu bagi pasien TBC.


Dari 2,7 juta penduduk Garut, kata bupati, masih banyak masyarakat yang harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah dalam rangka mengatasi masalah yang berhubungan dengan TBC, seraya berharap dengan adanya rembuk desa siaga tuberkulosis ini bisa menjadikan program yang konkret yang bisa dieksekusi dengan anggaran yang riil dan bisa dipertanggungjawabkan. "Kalau kita sekarang hari ini menyelenggarakan kegiatan tanpa adanya politik anggaran dari Bupati dan DPRD pasti ini tidak terlaksana dengan baik," ucap Rudy.


Oleh sebab itu peran dari pada stakeholder, semisal untuk masalah yang berhubungan dengan perumahan, sosial, kemudian berhubungan dengan  konteks keluarga berencana, serta peran Dinas Pendidikan terhadap beberapa orang yang orang tuanya mempunyai masalah dengan TBC bisa diinformasikan melalui sarana pendidikan. Kemudian pelibatan MUI, GOW (Gabunga Organisasi Wanita), serta pelibatan forum RT/RW dan semua stake holder di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten Garut.


Bupati Ruudy kembali menekankan tentang komitmen penuh Pemda Kabupaten Garut dengan mengajak semua Satuan Kerja Perangkat Daerah dan Forkopimda Kabupaten Garut untuk menjadikan kesehatan sebagai arus utama dalam pembuatan kebijakan,  mendengarkan apa yang telah dilakukan masyarakat agar dapat membuat program yang sinergi dan produktif,  secara bersama melakukan Eliminasi TBC melalui upaya lintas sektor dan bekerja sama dengan swasta, membangun masyarakat Garut yang tangguh dan berdaya untuk mencapai visi Pemerintah Kabupaten Garut “Bertaqwa, Maju dan Sejahtera”.


Sementara itu Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P)  Kementerian Kesehatan RI, Achmad Yurianto, mengatakan, saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yakni tiga masalah kesehatan (triple burden) yang membebani, yaitu masih tingginya penyakit menular seperti AIDS, Tuberkulosis, Malaria dan lain-lain; kemudian, meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti Hipertensi, Diabetes dan Kanker, dan Gangguan Jiwa terus bertambah; serta penyakit yang seharusnya sudah teratasi muncul kembali. "Di Indonesia, diperkirakan ada  sebesar 842.000 kasus baru TBC tahun 2017 dan  baru setengah yang ditemukan dan diobati.  Oleh karena itu, sejak tahun lalu tema nasional kita adalah “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya” untuk mengingatkan kembali kepada seluruh warga dunia dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia bahwa ini waktunya kita bebas dari TBC," ungkap Achamd Yurianto.


Dirjen P2P menekankan pentingnya masyarakat menjadi subjek dalam upaya pembangunan kesehatan, sehingga mereka melakukan pola hidup sehat sebagai bentuk upaya pemenuhan kebutuhan mereka agar bisa hidup produktif dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Hal ini selaras dengan tema kampanye Elimiasi TBC yaitu “Sudah Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya” . Upaya ini semakin penting dimasa Pandemi Covid-19 yang menekankan pentingnya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat agar bisa selamat dari Covid-19. Ia juga menyampaikan amanat Presiden Jokowi yang sudah memberikan komitmen tertingginya dengan memberikan 3 arahan penting pada saat Ratas (Rapat Terbatas) tanggal 20 Juli 2020 yang lalu, yaitu pemberdayaan masyarakat untuk penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan, penyediaan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan, dan menerapkan pola hidup dengan Adaptasi Kebiasaan Baru .


Pada kesempatan Rembuk Desa ini disampaikan pula paparan dari dr. Maskut  Farid. M. Kes - Kadinkes Garut tentang situasi dan perkembangan eliminasi TBC di Garut, drg. Maya Marinda Montain.  M.Kes - Kepala BBKPM Bandung tentang kegiatan Desa Siaga Tuberkulosis sebagai bagian dari program paru komunitas di Kabupaten Garut dan Ruli Oktavian, ST - Ketua Yahintara (Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara) tentang kontribusinya untuk mengatasi masalah lingkungan sebagai langkah preventif dalam eliminasi TBC melalui penataan Kawasan kumuh, menyediakan hunian sehat bagi pasien TBC, mengembangkan potensi ekonomi masyarakat melalui pelatihan kewirausahaan, serta memberikan edukasi rumah sehat   dan saat ini  Yahintara telah bekerja sama dengan Dinas Perumahan dan Pemukiman Pemkab Garut melalui program Nata Lembur. (jbr)

×
Berita Terbaru Update